Lewati navigasi

Ditengah keramaian pasar terdapat seorang penjual ikan. Tepat didepan warung ia memasang tulisan JUAL IKAN SEGAR. Seorang pemebeli datang untuk membeli ikannya. Setelah membeli ikan, ia melihat tulisan yang ada didepan warungnya. Ia pun berkata,”Buat apa kau menulis JUAL disini ? semua orang juga tahu kalau kau menjual ikan”. Mendengar masukakkan itu akhirnya si pedagang menghapus kata JUAL. Sekarnag tulisannya hanya IKAN SEGAR. Tidak lama berselang datang seorang pembeli lagi. Setelah selesai bertranskasi ia pun berkomentar sambil bertanya,”Hai pedagang, bukankah kau menjual ikan segar ?.” Si pedagang menjawab, “Tentu saja.” “Jadi buat apa kau tulis SEGAR jika nyata-nyata kau menjual ikan segar?” balas si pembeli. Mendengar jawaban pembeli itu pedagang itu hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian ia menghapus tulisan SEGAR. Yang tinggal kini hanya tulisan IKAN. Ketika ia sedang menunggu pembeli, beberapa orang anak melewati warungnya dan melontarkan celetukkannya. “Penjual yang aneh. Semua orang juga tahu kalau yang jual adalah ikan. Buat apa ia sibuk-sibuk menulis IKAN.” Mendengar celetukkan itu si penjual ikan akhirnya menghapus sumua tulisan yang pernah ia tulis dan ia segera menutup warungnya karena kesal.

Abu Nawas berniat untuk mengunjungi ibunya yang tinggal desa tetangganya. Ia mengajak anaknya yang remaja untuk pergi bersama. Bersamaan dengan mereka, Abu Nawas juga mensertakan seekor keledai.
Sesasat menjelang berangkat Abu Nawas menyurh anaknya untuk menunggangi keledainya, sedangkan ia berjalan sambil memegangi tali kekang keledai. Saat ia memasuki sebuah jalan, seluruh orang yang ada dijalan itu memperhatikan mereka. Ada diantara orang-orang itu yang terdengar berbisik kepada temannya. “Dasar anak durhaka. Ia enak menunggang keledai dan membiarkan orangtuanya yang sudah tua berjalan kaki.” Setelah melewati jalan tadi, Abu Nawas berhenti sejenak dan bermusyawarah dengan anaknya tentang gunjingan yang didengarnya tadi dijalan. Hasil dari musyawrah tadi mengharsukan Abu Nawas yang kali ini menunggang keledai dan anaknya yang berjalan.
Saat ia melewati pasar ada beberapa pedagang yang berteriak kepada Abu Nawas. “Wahai orang tua yang dzalim, begitu teganya engkau membiarkan anakmu berjalan kaki sedangkan anakmu berjalan kaki.” Mendengar teriakan itu Abu Nawas segera memberhentikan keledainya dan segera menyuruh anaknya agar bersama-sama dengannya menunggang keledai itu. Belum lama keledai itu berjalan seorang ibu yang sedang berbelanja berkomentar. “Kasihan keledai itu harus membawa beban yang berat.” Mendengar komentar itu, secepat kilat Abu Nawas menuruni tunggangannya dan menyuruh anaknya untuk turun pula. Sekarang Abu Nawas dan anaknya berjalan kaki sambil menggandeng keledainya. Ketika diujung pasar para pemuda yang berada disisi jalan berteriak kepada Abu Nawas, “Hai orang tua tidak kau berpikir bahwa keledai itu diciptakan untuk kau tunggangi ?”. Mendengar teriakan itu Abu Nawas dan anaknya langsung berhenti dan bermusyawarah lagi. Akhirnya Abu Nawas dan anaknya menggotong keledai itu bersama-sama. Kontan saja para pemuda yang berada disi jalan menertawakannya. Tapi kali ini Abu Nawas tetap tak bergeming hingga sampai kerumah ibunya. Saat sampai dirumah ibunya, ibunya kaget melihat kelakuan anakn dan cucunya. Ibunya berkata, “kau tinggal dimana pikiran dikepalamu wahai anakku?”. Abu Nawas dan anaknya hanya tertawa ringan.

Seorang kakek sedang berjalan-jalan berkeliling kota menggunakan motor bersama cucunya. Tiba-tiba cucunya terperangah melihat sebuah gedung yang tinggi disebelah kanannya. Sang kakek yang melihat dari spion motornya kemudian menepikan motornya kepinggir jalan. Ia ingin cucunya puas melihat gedung itu. Disaat menemani cucunya sang kakek memanggil dengan maksud menjelaskan sesuatu kepada cucunya. Sang kakek berkata,”Tahukan cucuku sayang, kemunggkinan berat gedung ini sekitar 20.000 ton. Tapi jika kau perhatikan dan coba kau hitung, ternyata sekitar 60% dari berat gedung ini berada dibawah tabah dan menjadi pondasi bangunan ini.” Sang cucu menganggukkan kepalanya tanda memahami pesan dari kakeknya.

Seorang mandor sedang berjalan memeriksa pekerjaan anak buahnya. Kali ini ia berkeliling kebagian tukang batu. Ia berniat memeriksa dan bertanya pada para tukang batunya. Ia bertanya kepada tukang batu pertama,”Apa yang sedang kau lakukan?”. Tukang batu itu menjawab dengan ketus,”Tidakkah kau melihat aku sedang memcahkan batu ditengah terik matahari.” Mandor itu hanya tersenyum mendengar jawaban tukang batu itu. Kemudia ia berlalu dan bertanya kepada tukang batu kedua dan mengajukkan pertanyaan yang sama. Tukang batu kedua menjawab,”Aku sedang mencari nafkah untuk keluargaku.” Mandor itu kembali tersenyum mendengar jawaban tersebut. Lau ia berjalan kepada tukang batu ketiga dan bertanya dengan pertanyaan yang sama kepadanya. Tukang batu ketiga menjawab, “Aku sedang membangun bangunan yang indah dan kokoh. Bangunan ini akan menjadi saksiku kelak dihari akhir. Dengan ini aku juga berkisah kepada anak cucuku kelak.”

Seorang gadis pemerah susu berjalan menuju pasar untuk menjual susu hasil perahannya. Ia membawa susu pada sebuah kendi yang cukup besar. Sambil berjalan menuju pasar ia membayangkan barang-barang yang akan dibelinya setelah berhasil menjuak susu itu.
Gadis itu berkata dalam hari,”Sepulang dari pasar nanti saya akan membeli ayam yang banyak untuk aku ternakkan di halaman rumahku. Setelah banyak ayam-ayam itu akan aku jual ke pasar”.
Sambil berjalan ternyata ia masih mebayangkan apa yang akan dilakukannya nanti,”Hasil dari penjuallan ayam itu aku akan membeli dua ekor kambing. Setelah beranak pinak aku akan jual kambing itu dengan harga yang bagus”.
Terus saja gadis itu tetap bermimpi,” Setelah menjual kambing, aku akan membeli seekor sapi uyang besar dan bagus. Tentu saja setelah aku merawat dengan baik, sapi itu akan menghasilkan susu lagi. Akhinya aku akan menghasilkan susu yang lebih banyak dari yang aku hasilkan hari ini”.
Dengan spontan gadis itu melompat kegirangan karena mimpinya itu, tapi apa yang terjadi, ketika ia melompat kendi susunya terlepas dari tangannya dan pecah. Susu yang ada didalamnya tumpah berceceran dijalan raya. Gadis itu kini hanya bisa terdiam dan menangis. Tidak ada mimpi lagi didalam pikirannya.

Disiang hari yang panas kucing berjalan menyusuri kebun. Ketika sedang berjalan matanya tertuju pada buah anggur yang sudah matang. Air liurnya terasa mengalir disela-sela tenggorokkannya.
Kucing itu akhirnya memperhatikan kondisi disekitar pohon anggur itu, khawatir ada penjaga yang sedang memperhatikannya. Setelah merasa aman, sang kucing mulai memperhatikan letak buah anggur itu dengan seksama. Ternyata buah anggur itu tidak akan bisa digapainya dengan hanya mengangkat kepala. Akhirnya ia merasa harus melakukan loncatan agar dapat menggapai buah anggur itu. Berkali-kali kucing itu melakukan lompatan tapi tidak juga sampai. Hingga ia merasa kakinya terkilir. Tapi ia tidak putus asa, ia kembali mengambil ancang-ancang terakhirnya karena hari sudah mulai gelap. Dilompatan terakhirnya ia kembali gagall. Akhirnya ia pergi kembali kerumahnya, didalam hatinya ia berujar, “sebenarnya aku tidak menginginkan anggur itu. Anggur itu bukan buah yang enak untuk ku makan”.

Seekor domba kecil terpisah dari kelompoknya. Ia tertarik dengan rumput yang ada dibalik bukit. Tanpa ia sadari, ia benar-benar jauh dari kelompoknya. Bahkan anjing penjaganya pun tidak menyadari bahwa domba itu lepas dari pengawasannya. Ketika sang domba sedang asyik memakan rumput dan berlari-lari diatas rumput ternyata seekor serigala datang menyergapnya. Domba kecil itu terkejut, ia tidak dapat berlari kencang. Apalagi saat ini ia merasa terlalu banyak memakan rumput sehingga tidak leluasa untuk bergerak. Sambil memelas domba itu berkata, “tolong jangan makan saya, saya mohon jangan makan saya. Tapi jika engakau tetap akan memakn saya, tolong sunggu sesaat. Perut saya amat penuh dengan rumput. Jika kau tunggu rasa yang aku miliki akan semakin lezat dikarenakan rumput ini. Mendengar alasan itu serigala menyetujuinya. Ia kemudian duduk dan menanti domba kecil itu. Beberapa saat kemudia domba kecil itu berkata, “Jika kau mengizinkanku untuk menari niscaya rumput ini akan cepat terolah ndan tergiling didalam perutku ini”. Sekali lagi, serigala itu kembali menyetujuinya.
Belum lama menari, domba kecil itu kembali mengajukkan usul, “Bisakah kau ambil lonceng kecil ini dari leherku ? tolong kau bunyikan lonceng iini dengan cepat. Semakin cepat kau bunyikan lonceng ini maka aku akan menari semakin cepat.
Serigala kemudian mengambil lonceng itu dan melakukan apa yang diperintahkan oleh domba kecil itu. Ternyata anjing penjaga domba kecil itu sadar bahwa ada satu dombanya yang terpish jauh. Dengan cepat ia berlari menuju bunyi lonceng itu. Akhirnya ia menemukan domba kecil itu dan sang srigala lari tunggang langgang karena takut dengan kehadiran anjing penjaga itu. Domba kecil itupun selamat dari sang srigala.

Disore hari laut selalu pasang. Biasanya ketika air pasang itu menyentuh bibir pantai selalu membawa berbagai binatang laut. Yang paling banyak dibawa oleh air pasang itu adalah ubur-ubur laut. Bersamaan dengan terdamparnya ubur-ubur itu ada seorang pejaga pantai yang selalu menarik perhatian para pengunjung pantai. Ia berjalan menyusuri bibir pantai untuk mengumpulkan dan melemparkan ubur-ubur itu kembali lagi ke tengah laut. Prilaku itu dianggap oelh pengunjung pantai sebagai perilaku yang aneh, hingga ada seorang pengunjung pantai bertantya kepada penjaga pantai titu. “Pak penjaga, bukankah yang anda lakukan itu adalah hal yang sia-sia ? karena anda tidak mungkin mengembalikan seluruh ubur-ubur yang terdampar dibibir pantai. Apalagi anda sudah tahu bahwa ubur-ubur yang anda kembalikan ketengah laut akan kembali terdampar lagi. Bukankah yang anda lakukan itu benar-benar perbuatan sia-sia?”. Penjaga pantai itu menjawab, “tidak bolehkah saya melakukan sedikit kebaikan untuk makhluk tuhan yang kecil ini?”. Mendengar jawaban penjega pantai itu, pengunjung panatai tadi berlalu dengan rasa bersalah dan malu.

Seorang penggambala cilik, menggembalakan dombanya di bukit tepat di atas kampungnya. Suatu Suatu hari ia merasa jenuh dalam menggembalakan dombanya. Hingga muncul niat jahilnya, seketika itu sang penggembala berteriak sekeras-kerasnya, Tolong…tolong…serigala…serigala. Seketika itu seluruh penduduk desa mendengar teriakan penggembala tersebut. Dengan sigap mereka beramai-ramai berlari membawa berbagai macam senjata untuk menolong pengembala. Setelah sampai diatas bukit para penduduk tidak menemukan adanya bekas-bekas datangnya srigala. Bahkan mereka menemukan sang penggembala tertawa terpingkal-pingkala karena ia merasa berhasil membodohi seluruh penduduk desa. Dengan perasaan kesal dan kecewa para penduduk kembali ke desa.
Keesokkannya para penduduk kemabali mendengar teriakan penggembala meminta tolong dari atas bukit. Tapi apa yang terjadi, mereka kembali merasa ditipu oleh sang penggembala.
Beberapa hari kemudian terdengar teriakan meminta tolong dari atas bukit, “tolong…tolong…serigala…serigala…”. Seluruh penduduk tahu bahwa itu adalah teriakan penggembala yang jahil itu. Tetapi kali ini teriakan penggemabal itu sama sekali tidak digubris oleh seluruh penduduk desa. Tiba-tiba, dari atas bukit terlihat sang penggembala turun ke desa dengan berlari tunggang langgalng meminta tolong kepada seluruh penduduk desa. Barulah kemudian penduduk tahu bahwa itu bukanlah teriakan jahil, taoi teriakan yang benar. Akhirnya seluruh penduduk desa berlari ke ats bukit untuk menyelamatkan kambing sang penggembala. Namun terlambat, kelompok serigala telah memakan seluruh dombanya.

Seekor rubah yang licik dan pelit mengudang bangau untuk makan dirumahnya esok pagi. Mendengar undangan itu bangau menjadi senang. Keesokkan paginya bangau tadi sudah berada didepan pintu rumah sang rubah. Bangau kemudia mengetuk pintu rumah rubah, sebagai tanda bahwa ia sudah ada didepan pintu. Mendengar ketukan pintu itu, rubah segera menyuruh bangu untuk masuk kerumahnya dan segera menuju ke meja makan. Tercium oleh bangau aroma masakan yang menggugah selera. Beberapa menit kemudian rubah membawa sup lezat pada sebuah piring datar. Melihat rubah, sang bangau hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, karena ia merasa dikerjai oleh rubah. Mana mungkin ia dapat memakan sup itu pada sebuah piring datar, sedangkan ia memiliki paruh yang panjang. Hal itu sangat sulit bagi seekor bangau. Akhirnya rubah memakan semua supa itu sampai habis. Menjelang bangau pamit untuk pulang kerumah, ia mengundang rubah untuk makan siang dirumahnya besok.

Keesokkan harinya rubah datang kerumah sang bangau. Belum lagi rubah mengetuk pintu rumah, sang bangu sudah ,menyambutnya dengan senyum senang. Setelah memasuki rumah sang bangu menmpersilahkan rubah untuk menuju meja makan. Disana sudah tersedia salad buah-buahan yang ada didalam kendi yang berleher panjang. Dengan segera sang rubah langsung menuju kendi itu, tapi apa yang terjadi, lubang kendi itu terlalu kecil untuk kepada rubah. Ketika ia iangin menggapai dengan tangan, ternyata tanganya terlalu pendek untuk menggapai isi kendi itu. Bangau hanya tersentum dan memakan semua salad yang ada didalam kendi itu.