Lewati navigasi

Category Archives: Tetes Hikmah

Seekor rubah yang licik dan pelit mengudang bangau untuk makan dirumahnya esok pagi. Mendengar undangan itu bangau menjadi senang. Keesokkan paginya bangau tadi sudah berada didepan pintu rumah sang rubah. Bangau kemudia mengetuk pintu rumah rubah, sebagai tanda bahwa ia sudah ada didepan pintu. Mendengar ketukan pintu itu, rubah segera menyuruh bangu untuk masuk kerumahnya dan segera menuju ke meja makan. Tercium oleh bangau aroma masakan yang menggugah selera. Beberapa menit kemudian rubah membawa sup lezat pada sebuah piring datar. Melihat rubah, sang bangau hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, karena ia merasa dikerjai oleh rubah. Mana mungkin ia dapat memakan sup itu pada sebuah piring datar, sedangkan ia memiliki paruh yang panjang. Hal itu sangat sulit bagi seekor bangau. Akhirnya rubah memakan semua supa itu sampai habis. Menjelang bangau pamit untuk pulang kerumah, ia mengundang rubah untuk makan siang dirumahnya besok.

Keesokkan harinya rubah datang kerumah sang bangau. Belum lagi rubah mengetuk pintu rumah, sang bangu sudah ,menyambutnya dengan senyum senang. Setelah memasuki rumah sang bangu menmpersilahkan rubah untuk menuju meja makan. Disana sudah tersedia salad buah-buahan yang ada didalam kendi yang berleher panjang. Dengan segera sang rubah langsung menuju kendi itu, tapi apa yang terjadi, lubang kendi itu terlalu kecil untuk kepada rubah. Ketika ia iangin menggapai dengan tangan, ternyata tanganya terlalu pendek untuk menggapai isi kendi itu. Bangau hanya tersentum dan memakan semua salad yang ada didalam kendi itu.

Seorang anak kecil memperhatikan seorang penjual balon yang sedang mengisi balon berwarna merah dengan gas hidrogen. Dengan kagum anak kecil itu melihat balon merah itu dapat terbang melayang-layang dengan terikat pada seutas benang kenur yang tipis. Sang anak bertanya pada penjual balon itu. Pak, jika balon itu berwarna hijau, biru atau hitam, apakah balon itu tetap dapat melayang-layang diudara ?. Penjual balon itu menaruh tangan kanannya dibahu anak kecil itu sambil berucap. Nak, yang membuat balon itu terbang adalah apa yang ada didalam balon tersebut. Bukan warna balon yang membuatnya terbang.

Dikisahkan sebentar lagi akan terjadi peperangan besar antara Thalut dan Jalut. Daud as. yang ketika itu masih anak-anak mempersiapkan diri untuk menghadapi tentara Jalut yang terkenal kuat dan kejam. Apalagi pemimpinnya, yaitu Jalut, semua tahu bahwa ia memiliki tubuh yang amat besar seperti raksasa. Belum lagi keahliannya dalam berperang amatlah terdengar menakutkan. Daud as kecil mempersenjatai dirinya hanya dengan sebuah ketapel. Seorang tentara dari pasukan Tahlut mengatakan, hai Daud, Jalut terlalu besar untuk kau kalahkan dengan ketapelmu itu. Daud asa. menjawab, engkau salah, ketapelku itu terlalu kecil dari tubuh Jalut yang besar itu. Akhirnya terjadilah perang itu. Tercatatlah dalam sejarah bahwa Jalut terbunuh karena ketapel kecil Daud as.

Dua orang pejalan kaki ingin menuju sebuah kota Bashrah. Ia berjalan dari Timur Bashrah. Sudah dua hari ia berjalan kaki, namun baru hari ini mereka merasakan sinar matahari demikian panas dan terik. Ketika terasa semakin panas dan terik, mereka berusaha mencari tempat berteduh. Dilihatnya sebuah pohon besar yang rimbun dan kokoh. Sesaat mereka sampai dibawah pohon itu, mereka menyandarkan punggungnya pada batang pohon tersebut. Salah seorang dari mereka memperhatikan kondisi pohon tersebut. Ia melihat dahan-dahan pohon tersebut dan melihat rimbunnya daun yang dimilikinya. Namun ia tidak menemukan ada sebutir buah yang melekat pada dahan dan ranting pohon tersebut. Kemudian ia berkata pada temannya, kasihan sekali pohon ini tidak berbuah sedikit pun. Sedikit sekali manfaat dari pohon ini. Temannya menjawab dengan seraya bertanya, apakah kau tidak merasa sejuk dan teduh berada dibawahnya ?. Temannya terdiam malu mendengar jawaban temannya.

Seorang raja berencana melakukan perjalan panjang untuk menyusuri seluruh daerah kekuasaannya dengan berjalan kaki. Ketika selasai menyelesaikan perjalanan panjang itu, sang raja merasakan sakit pada kakinya. Hal ini amatlah wajar, karena sang raja baru kali ini merasakan perjalanan yang panjang. Apalagi ia melakukannya dengan berjalan kaki. Ia berpendapat bahwa sakit yang dirasakan dikakinya disebabkan karena jalan yang dilalui amatlah berbatu dan terjal. Dengan kekuasaannya ia memerintahkan kepada para menterinya agar melapisi seluruh jalan itu dengan karpet wol yang tebal agar jalan itu menjadi empuk dan nyaman. Paa menteripun segera mengadakan rapat untuk menuruti tidah raja tersebut. Jutaan kilo wol dibutuhkan untuk menutupi seluruh jalan. Terbayang jumlah uang yang akan dikeluarkan oleh negara. Akhirnya seorang menteri yang cerdik menghadap ke sang raja agar memberikan sedikit masukkan kepadanya. Ia berkata, Yang Mulia, terpikirkah oleh anda bahwa berapa jumlah uang dan berapa jumlah wol yang dibutuhkan untuk menutupi selurh jalan agar terasa empuk dan nyaman. Tidakkah lebih baik jika Yang Mulia memberikan sedikit wol atau kain yang empuk pada sepatu anda agar ketika melewati jalan itu kaki anda tidak merasakan sakit. Raja tersenyum dengan gembira dengan nasehat dari menterinya tersebut.