Lewati navigasi

Category Archives: duniakoe

Mabit atau Malam Bina Iman dan Taqwa merupakan sebuah ritual rutin yang selalu dilakukan di sekolah tempat saya mengajar. Bagi maurid-murid saya yang aktif sebagai anggota rohis, Mabit merupakan makanan spiritual mereka 3 bulan sekali. Bagi selain rohis mereka mungkin hanya mengikuti Mabit diawal mereka masuk dan saat beberapa bulan lagi mereka meninggalkan sekolah.

Nah, kemarin malam murid-murid baru tingkat satu melakukan Mabit. Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa baru kali ini mereka menginap di sekolah. Terlebih lagi Mabit. “Apa itu Mabit pak ?, Nanti kita ngapain aja pak ?, Bawa apa aja pak ?, Boleh bawa bantal pak ?.” Kurang lebih pertanyaan-pertanyaan itulah yang dilontarkan kepada saya. Kadang saya menjawabnya hanya dengan senyuman atau hanya dengan tertawa ringan sambil dilanjutkan dengan kata, “Nanti aja lihat, pokoknya sip deh.”

Setiap kali Mabit saya selau ditemani dengan murid-murid saya yang sudah saya anggap seperti sahabat-sahabat saya sendiri. Karena saya adalah pembimbing mereka maka saya sangat dan sangat terbantu dengan hadirnya mereka. Apa jadinya saya jika harus bekerja sendiri menyelenggarakan Mabit. Apalagi Mabit penyambutan murid baru wajib diikuti oleh murid tingkat satu.

Selain ditemani dengan sahaba-sahabat saya, setiap Mabit saya juga selalu ditemani oleh saudara saya bapak Muhammad Didi “Adi” Ahmadi yang spesial bertugas sebagai pemuhasabah yang selalu membuat orang menangis karena sadar akan dosanya. Bapak Luthpi (Kepsek) malam kemarin juga menyempatkan diri untuk Mabit. Biasanya agenda beliau cukup padat, saya amat bersyukur kali ini beliau bisa hadir. Bu Nurhayati juga selalu membantu jika saya mengadakan Mabit. Kadang tanpa saya minta bu Nur sudah menawarkan bantuannya. Ada juga pa Mahmud petugas jaga malam di sekolah yang selalu menjadi teman bergadang saya dan teman tertawa saya ditengah malam buta. Mad Sahi petugas kebersihan sekolah juga ikut repot kalau ada mabit. Tapi kali Mad Sahi menjadi seorang Solo Fighter karena duet mautnya Mang Udin harus pulang kampoeng untuk menengok kampoeng halamannya tercinta. Mabit kali ini juga sedikit kurang personil karena Ibu Atit tidak bisa ikut bersama. Padahal setiap Mabit sekolah beliau selalu hadir. Tapi ditengah ketidakhadiran beliau, pagi harinya beliau juga tetap mengisi satu sesi dari acara Mabit. Beliau beserta temannya sudah 2 kali Mabit memimpin senam pagi Nusantara untuk anak-anak. Ini terobosan baru dalam konsep mabit sekolah. Sehat Ruhiah juga sehat Fisik dong.

Alhamdulilah Mabit kemarin akhirnya berjalan dengan sukses. Sekalipun saya tidak menutupi bahwa tak ada gading yang tak retak. Kedepan tekad seya Mabit harus sukses, sukses dan sukses. Karena menurut hemat saya sukses Mabit tidak bisa langsung ces pleng tau langsung dirasakan efeknya tapi butuh waktu untuk melihatnya. ‘Ala Kulli Hal saya ucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat di rohis, saudara saya pak Adi, bu Nur, pa Mahmud (untuk kopinya juga), Mad Sahi, pa Luthpi, bu Atit, pa Irfan, bu Cahyani, pa Arif (untuk otak-atik sound system-nya), pa Ali (untuk lighting-nya) dan untuk semua orang-orang yang berperan demi kelancaran acara ini dan juga untuk yang orang berdoa demi suksesnya acara ini. Oh satu lagi, untuk ketua pelaksana Mabit sahabat kecil saya Lestari yang kali ini tidak bisa ikut Mabit karena sakit. Dan tidak lupa untuk Istri tercinta yang telah rela untuk saya tinggal dirumah. Allahu Akbar !

Iklan

Sepulang dari Pamulang kemarin, saudara saya mengajak berkunjung kerumah ibu kandungnya di daerah Babakanj – Kota Tangerang. Daerah Babakan mungkin menjadi daerah terpadat di Kota Tangerang. Rumah-rumah kecil yang sederhana dengan ukuran yang bermacam-macam menjadi pemandangan di Babakan. Disana saya sedikit berdiskusi dengan ibu saudara saya. Ia berkisah tentang cucu kecilnya yang berusia kurang dari satu tahun yang ada di Jakarta. Sambil bercerita dengan gaya menasehari ibu saudara saya itu berkayta kepada saya dan saudara saya. Ia berkata, “Hati-hati jika berbicara dengan anak kecil. Sekalipun ia bertubuh kecil tapi hatinya lebih tua dari kita.” Jika saya boleh artikan nasehat tadi, bahwa jika kita berkata kepada anak kecil baik yang masih balita atau yang belum baligh haruslah berhati-hati. Karena anak kecil memiliki hati yang sangat lembut dan sensitif. Jika dipikir-pikir memang benar juga. Kadang kita yang besar memang kecap tak acuh dengan apa yang dikatakan oleh temas sebaya kita. Kadang pula kita tidak peka dengan efek timbul pada anak-anak setelah kita mengatakan sesuatu padanya. Mengapa ibu menceritakan hal itu pada saya, karena cucu kecilnya yang di Jakarta pernah disingguh dengan kata-kata yang kurang pantas oleh neneknya yang di Jakarta. Neneknya berkata, “Tuh lihat, masa anak ini makan banyak banget.” Kurang lebih itu yang saya ingat. Akhirnya Ibu mengambil kesimpulan, kata-kata itulah yang membuat cucu kecilnya itu memiliki tubuh yang sangat kecil atau mirip dengan kurang gizi. Padahal kata ibu, anak itu dalam 1 bulan menghabiskan 10 bungkus susu bubuk dengan ukuran sedang. Percaya atau tidak kesimpulan ibu agaknya layak kita renungkan.

Liburan Isra Mi’raj kemarin saya pergi ke rumah saudara di daerah Pamulang – Kabupaten Tangerang mengendarai motor Vario yang belum lunas. He..Saya sendiri tinggal di daerah Perumnas I – Kota Tangerang. Jarak antara Perumnas – Pamulang dapat ditempuh 45 menit minus macet, jika lalu lintas macet tentu saja waktu yang dibutuhkan lebih dari itu. Selama perjalanan menuju kesana ada yang menarik perhatian saya. Sejak terakhir saya berkunjung ke Pamulang tiga bulan yang lalu, mata saya tidak pernah dengan jeli memperhatikan perubahan yang begitu cepat terjadi. Saya tidak menyangka bahwa aroma perdagangan bebas sudah mulai sampai ke kota ini. Hal ini terlihat dengan tumbuh berjamurnya tempat-tempat pengisian bahan bakar kendaraan (pom bensin) yang berasal dari luar negeri. Bayangkan saja, jika saya hitung-hitung setiap 10 menit berjalan saya akan menemukan pom bensin dengan label luar negeri. Petronas yang merupakan perusahaan minyak dari negeri Jiran, sepanjang perjalanan dari rumah hingga ketujuan ada empat buah. Dengan warna brand hijau, dilengkapi dengan outlet makanan seperti Dunkin Donuts atau Kentucy Fried Chicken dan dikombinasikan dengan sebuah waserba mini, pom bensin Petronas dengan gagah berdiri di tanah negeri ini. Bahan bakar yang ada disana ada dua jenis. Saya tidak hapal jenisnya. Yang saya hapal adalah kisaran harga bahan bakar di Petronas tidak lebih dari Rp.11.000. Berbeda dengan Petronas, warna kuning cerah dengan gambar kerang dengan list merah dipinggirnya menjadi brand yang paling terkenal dari tempat pengisian bahan bakar Shell. Perusahaan minyak dari negara adidaya Amerika ini terlihat lebih menarik bagi saya. Sekalipun tidak seperti Petronas yang dilengkapi dengan tempat jajan mini, tapi Shell memiliki daya tarik tersendiri. Pernah saya sesekali menemani teman mengisi bahan bakar disana ternyata servis prima dengan sedikit senyum simpul para penjaganya menjadi sebuah kesan yang menarik bagi saya. Berbeda dengan pelayanan yang ada di Pertmina. Apalagi kebersihan pom bensin Shell sepertinya bersaing dengan pom bensin Petronas. Hal ini amat kontras terlihat jika dibandingkan dengan kondisi pom Bensin Pertamina yang seolah tak memperhatikan kebersihan. Harga yang ditawarkan oleh pom bensin Shell tidak lebih dari Rp. 12.000. Saya menemukan empat pom bensin Shell selama saya berjalan menuju Pamulang. Pertamina boleh meneriakan cintai produk dalam negeri. Tapi Pertamina agaknya harus mulai bersiap-siap menggulung lengan baju untuk menghadapi pesaing dari luar negeri. Saya selalu teringat dengan strategi perang orang-orang dulu bahwa yang mengatakan, “Penyerang biasanya lebih siap dari yang bertahan. Mempertahankan daerah lebih sulit dibandingkan menyerang. “

Tadi malam, sambil menunggu istri pulang dari kuliah, saya menonton film Batman Begins. Kurang lebih cerita film ini adalah menceritakan bagaimana awal-awal Bruce Wayne itu menjadi seorang Pembela Kebenaran. Ternyata dari film itu dijelaskan bahwa mengapa Bruce Wayne mengambil Bat “Kelelawar” sebagai inspirasinya adalah dikarenakan Bruce Wayne sendiri takut terhadap kelelawar. Dia mencoba melawan rasa takutnya itu dengan memakai simbol kelelawar.

Menerut hemat saya itu merupakan salah satu metode yang sangat baik dalam rangka melawan rasa takut kita terhadap sesuatu. Orang yang takut dengan air mamang terapi terbaiknya adalah dengan menghadirkan air di depannya. Murid saya pun pernah bercerita bahwa dia dulu takut dengan kecoa. Kini ia tidak takut lagi karena setiap kali ia bertemu ia tidak pernah lari darinya bahkan menghadapinya dengan gagah berani.