Lewati navigasi

Monthly Archives: Juli 2008

Disiang hari yang panas kucing berjalan menyusuri kebun. Ketika sedang berjalan matanya tertuju pada buah anggur yang sudah matang. Air liurnya terasa mengalir disela-sela tenggorokkannya.
Kucing itu akhirnya memperhatikan kondisi disekitar pohon anggur itu, khawatir ada penjaga yang sedang memperhatikannya. Setelah merasa aman, sang kucing mulai memperhatikan letak buah anggur itu dengan seksama. Ternyata buah anggur itu tidak akan bisa digapainya dengan hanya mengangkat kepala. Akhirnya ia merasa harus melakukan loncatan agar dapat menggapai buah anggur itu. Berkali-kali kucing itu melakukan lompatan tapi tidak juga sampai. Hingga ia merasa kakinya terkilir. Tapi ia tidak putus asa, ia kembali mengambil ancang-ancang terakhirnya karena hari sudah mulai gelap. Dilompatan terakhirnya ia kembali gagall. Akhirnya ia pergi kembali kerumahnya, didalam hatinya ia berujar, “sebenarnya aku tidak menginginkan anggur itu. Anggur itu bukan buah yang enak untuk ku makan”.

Seekor domba kecil terpisah dari kelompoknya. Ia tertarik dengan rumput yang ada dibalik bukit. Tanpa ia sadari, ia benar-benar jauh dari kelompoknya. Bahkan anjing penjaganya pun tidak menyadari bahwa domba itu lepas dari pengawasannya. Ketika sang domba sedang asyik memakan rumput dan berlari-lari diatas rumput ternyata seekor serigala datang menyergapnya. Domba kecil itu terkejut, ia tidak dapat berlari kencang. Apalagi saat ini ia merasa terlalu banyak memakan rumput sehingga tidak leluasa untuk bergerak. Sambil memelas domba itu berkata, “tolong jangan makan saya, saya mohon jangan makan saya. Tapi jika engakau tetap akan memakn saya, tolong sunggu sesaat. Perut saya amat penuh dengan rumput. Jika kau tunggu rasa yang aku miliki akan semakin lezat dikarenakan rumput ini. Mendengar alasan itu serigala menyetujuinya. Ia kemudian duduk dan menanti domba kecil itu. Beberapa saat kemudia domba kecil itu berkata, “Jika kau mengizinkanku untuk menari niscaya rumput ini akan cepat terolah ndan tergiling didalam perutku ini”. Sekali lagi, serigala itu kembali menyetujuinya.
Belum lama menari, domba kecil itu kembali mengajukkan usul, “Bisakah kau ambil lonceng kecil ini dari leherku ? tolong kau bunyikan lonceng iini dengan cepat. Semakin cepat kau bunyikan lonceng ini maka aku akan menari semakin cepat.
Serigala kemudian mengambil lonceng itu dan melakukan apa yang diperintahkan oleh domba kecil itu. Ternyata anjing penjaga domba kecil itu sadar bahwa ada satu dombanya yang terpish jauh. Dengan cepat ia berlari menuju bunyi lonceng itu. Akhirnya ia menemukan domba kecil itu dan sang srigala lari tunggang langgang karena takut dengan kehadiran anjing penjaga itu. Domba kecil itupun selamat dari sang srigala.

Disore hari laut selalu pasang. Biasanya ketika air pasang itu menyentuh bibir pantai selalu membawa berbagai binatang laut. Yang paling banyak dibawa oleh air pasang itu adalah ubur-ubur laut. Bersamaan dengan terdamparnya ubur-ubur itu ada seorang pejaga pantai yang selalu menarik perhatian para pengunjung pantai. Ia berjalan menyusuri bibir pantai untuk mengumpulkan dan melemparkan ubur-ubur itu kembali lagi ke tengah laut. Prilaku itu dianggap oelh pengunjung pantai sebagai perilaku yang aneh, hingga ada seorang pengunjung pantai bertantya kepada penjaga pantai titu. “Pak penjaga, bukankah yang anda lakukan itu adalah hal yang sia-sia ? karena anda tidak mungkin mengembalikan seluruh ubur-ubur yang terdampar dibibir pantai. Apalagi anda sudah tahu bahwa ubur-ubur yang anda kembalikan ketengah laut akan kembali terdampar lagi. Bukankah yang anda lakukan itu benar-benar perbuatan sia-sia?”. Penjaga pantai itu menjawab, “tidak bolehkah saya melakukan sedikit kebaikan untuk makhluk tuhan yang kecil ini?”. Mendengar jawaban penjega pantai itu, pengunjung panatai tadi berlalu dengan rasa bersalah dan malu.

Seorang penggambala cilik, menggembalakan dombanya di bukit tepat di atas kampungnya. Suatu Suatu hari ia merasa jenuh dalam menggembalakan dombanya. Hingga muncul niat jahilnya, seketika itu sang penggembala berteriak sekeras-kerasnya, Tolong…tolong…serigala…serigala. Seketika itu seluruh penduduk desa mendengar teriakan penggembala tersebut. Dengan sigap mereka beramai-ramai berlari membawa berbagai macam senjata untuk menolong pengembala. Setelah sampai diatas bukit para penduduk tidak menemukan adanya bekas-bekas datangnya srigala. Bahkan mereka menemukan sang penggembala tertawa terpingkal-pingkala karena ia merasa berhasil membodohi seluruh penduduk desa. Dengan perasaan kesal dan kecewa para penduduk kembali ke desa.
Keesokkannya para penduduk kemabali mendengar teriakan penggembala meminta tolong dari atas bukit. Tapi apa yang terjadi, mereka kembali merasa ditipu oleh sang penggembala.
Beberapa hari kemudian terdengar teriakan meminta tolong dari atas bukit, “tolong…tolong…serigala…serigala…”. Seluruh penduduk tahu bahwa itu adalah teriakan penggembala yang jahil itu. Tetapi kali ini teriakan penggemabal itu sama sekali tidak digubris oleh seluruh penduduk desa. Tiba-tiba, dari atas bukit terlihat sang penggembala turun ke desa dengan berlari tunggang langgalng meminta tolong kepada seluruh penduduk desa. Barulah kemudian penduduk tahu bahwa itu bukanlah teriakan jahil, taoi teriakan yang benar. Akhirnya seluruh penduduk desa berlari ke ats bukit untuk menyelamatkan kambing sang penggembala. Namun terlambat, kelompok serigala telah memakan seluruh dombanya.

Seekor rubah yang licik dan pelit mengudang bangau untuk makan dirumahnya esok pagi. Mendengar undangan itu bangau menjadi senang. Keesokkan paginya bangau tadi sudah berada didepan pintu rumah sang rubah. Bangau kemudia mengetuk pintu rumah rubah, sebagai tanda bahwa ia sudah ada didepan pintu. Mendengar ketukan pintu itu, rubah segera menyuruh bangu untuk masuk kerumahnya dan segera menuju ke meja makan. Tercium oleh bangau aroma masakan yang menggugah selera. Beberapa menit kemudian rubah membawa sup lezat pada sebuah piring datar. Melihat rubah, sang bangau hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, karena ia merasa dikerjai oleh rubah. Mana mungkin ia dapat memakan sup itu pada sebuah piring datar, sedangkan ia memiliki paruh yang panjang. Hal itu sangat sulit bagi seekor bangau. Akhirnya rubah memakan semua supa itu sampai habis. Menjelang bangau pamit untuk pulang kerumah, ia mengundang rubah untuk makan siang dirumahnya besok.

Keesokkan harinya rubah datang kerumah sang bangau. Belum lagi rubah mengetuk pintu rumah, sang bangu sudah ,menyambutnya dengan senyum senang. Setelah memasuki rumah sang bangu menmpersilahkan rubah untuk menuju meja makan. Disana sudah tersedia salad buah-buahan yang ada didalam kendi yang berleher panjang. Dengan segera sang rubah langsung menuju kendi itu, tapi apa yang terjadi, lubang kendi itu terlalu kecil untuk kepada rubah. Ketika ia iangin menggapai dengan tangan, ternyata tanganya terlalu pendek untuk menggapai isi kendi itu. Bangau hanya tersentum dan memakan semua salad yang ada didalam kendi itu.

Seorang anak kecil memperhatikan seorang penjual balon yang sedang mengisi balon berwarna merah dengan gas hidrogen. Dengan kagum anak kecil itu melihat balon merah itu dapat terbang melayang-layang dengan terikat pada seutas benang kenur yang tipis. Sang anak bertanya pada penjual balon itu. Pak, jika balon itu berwarna hijau, biru atau hitam, apakah balon itu tetap dapat melayang-layang diudara ?. Penjual balon itu menaruh tangan kanannya dibahu anak kecil itu sambil berucap. Nak, yang membuat balon itu terbang adalah apa yang ada didalam balon tersebut. Bukan warna balon yang membuatnya terbang.

Dikisahkan sebentar lagi akan terjadi peperangan besar antara Thalut dan Jalut. Daud as. yang ketika itu masih anak-anak mempersiapkan diri untuk menghadapi tentara Jalut yang terkenal kuat dan kejam. Apalagi pemimpinnya, yaitu Jalut, semua tahu bahwa ia memiliki tubuh yang amat besar seperti raksasa. Belum lagi keahliannya dalam berperang amatlah terdengar menakutkan. Daud as kecil mempersenjatai dirinya hanya dengan sebuah ketapel. Seorang tentara dari pasukan Tahlut mengatakan, hai Daud, Jalut terlalu besar untuk kau kalahkan dengan ketapelmu itu. Daud asa. menjawab, engkau salah, ketapelku itu terlalu kecil dari tubuh Jalut yang besar itu. Akhirnya terjadilah perang itu. Tercatatlah dalam sejarah bahwa Jalut terbunuh karena ketapel kecil Daud as.

Dua orang pejalan kaki ingin menuju sebuah kota Bashrah. Ia berjalan dari Timur Bashrah. Sudah dua hari ia berjalan kaki, namun baru hari ini mereka merasakan sinar matahari demikian panas dan terik. Ketika terasa semakin panas dan terik, mereka berusaha mencari tempat berteduh. Dilihatnya sebuah pohon besar yang rimbun dan kokoh. Sesaat mereka sampai dibawah pohon itu, mereka menyandarkan punggungnya pada batang pohon tersebut. Salah seorang dari mereka memperhatikan kondisi pohon tersebut. Ia melihat dahan-dahan pohon tersebut dan melihat rimbunnya daun yang dimilikinya. Namun ia tidak menemukan ada sebutir buah yang melekat pada dahan dan ranting pohon tersebut. Kemudian ia berkata pada temannya, kasihan sekali pohon ini tidak berbuah sedikit pun. Sedikit sekali manfaat dari pohon ini. Temannya menjawab dengan seraya bertanya, apakah kau tidak merasa sejuk dan teduh berada dibawahnya ?. Temannya terdiam malu mendengar jawaban temannya.

Seorang raja berencana melakukan perjalan panjang untuk menyusuri seluruh daerah kekuasaannya dengan berjalan kaki. Ketika selasai menyelesaikan perjalanan panjang itu, sang raja merasakan sakit pada kakinya. Hal ini amatlah wajar, karena sang raja baru kali ini merasakan perjalanan yang panjang. Apalagi ia melakukannya dengan berjalan kaki. Ia berpendapat bahwa sakit yang dirasakan dikakinya disebabkan karena jalan yang dilalui amatlah berbatu dan terjal. Dengan kekuasaannya ia memerintahkan kepada para menterinya agar melapisi seluruh jalan itu dengan karpet wol yang tebal agar jalan itu menjadi empuk dan nyaman. Paa menteripun segera mengadakan rapat untuk menuruti tidah raja tersebut. Jutaan kilo wol dibutuhkan untuk menutupi seluruh jalan. Terbayang jumlah uang yang akan dikeluarkan oleh negara. Akhirnya seorang menteri yang cerdik menghadap ke sang raja agar memberikan sedikit masukkan kepadanya. Ia berkata, Yang Mulia, terpikirkah oleh anda bahwa berapa jumlah uang dan berapa jumlah wol yang dibutuhkan untuk menutupi selurh jalan agar terasa empuk dan nyaman. Tidakkah lebih baik jika Yang Mulia memberikan sedikit wol atau kain yang empuk pada sepatu anda agar ketika melewati jalan itu kaki anda tidak merasakan sakit. Raja tersenyum dengan gembira dengan nasehat dari menterinya tersebut.