Skip navigation

Abu Nawas berniat untuk mengunjungi ibunya yang tinggal desa tetangganya. Ia mengajak anaknya yang remaja untuk pergi bersama. Bersamaan dengan mereka, Abu Nawas juga mensertakan seekor keledai.
Sesasat menjelang berangkat Abu Nawas menyurh anaknya untuk menunggangi keledainya, sedangkan ia berjalan sambil memegangi tali kekang keledai. Saat ia memasuki sebuah jalan, seluruh orang yang ada dijalan itu memperhatikan mereka. Ada diantara orang-orang itu yang terdengar berbisik kepada temannya. “Dasar anak durhaka. Ia enak menunggang keledai dan membiarkan orangtuanya yang sudah tua berjalan kaki.” Setelah melewati jalan tadi, Abu Nawas berhenti sejenak dan bermusyawarah dengan anaknya tentang gunjingan yang didengarnya tadi dijalan. Hasil dari musyawrah tadi mengharsukan Abu Nawas yang kali ini menunggang keledai dan anaknya yang berjalan.
Saat ia melewati pasar ada beberapa pedagang yang berteriak kepada Abu Nawas. “Wahai orang tua yang dzalim, begitu teganya engkau membiarkan anakmu berjalan kaki sedangkan anakmu berjalan kaki.” Mendengar teriakan itu Abu Nawas segera memberhentikan keledainya dan segera menyuruh anaknya agar bersama-sama dengannya menunggang keledai itu. Belum lama keledai itu berjalan seorang ibu yang sedang berbelanja berkomentar. “Kasihan keledai itu harus membawa beban yang berat.” Mendengar komentar itu, secepat kilat Abu Nawas menuruni tunggangannya dan menyuruh anaknya untuk turun pula. Sekarang Abu Nawas dan anaknya berjalan kaki sambil menggandeng keledainya. Ketika diujung pasar para pemuda yang berada disisi jalan berteriak kepada Abu Nawas, “Hai orang tua tidak kau berpikir bahwa keledai itu diciptakan untuk kau tunggangi ?”. Mendengar teriakan itu Abu Nawas dan anaknya langsung berhenti dan bermusyawarah lagi. Akhirnya Abu Nawas dan anaknya menggotong keledai itu bersama-sama. Kontan saja para pemuda yang berada disi jalan menertawakannya. Tapi kali ini Abu Nawas tetap tak bergeming hingga sampai kerumah ibunya. Saat sampai dirumah ibunya, ibunya kaget melihat kelakuan anakn dan cucunya. Ibunya berkata, “kau tinggal dimana pikiran dikepalamu wahai anakku?”. Abu Nawas dan anaknya hanya tertawa ringan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: