Lewati navigasi

Monthly Archives: Juli 2008

Sepulang dari Pamulang kemarin, saudara saya mengajak berkunjung kerumah ibu kandungnya di daerah Babakanj – Kota Tangerang. Daerah Babakan mungkin menjadi daerah terpadat di Kota Tangerang. Rumah-rumah kecil yang sederhana dengan ukuran yang bermacam-macam menjadi pemandangan di Babakan. Disana saya sedikit berdiskusi dengan ibu saudara saya. Ia berkisah tentang cucu kecilnya yang berusia kurang dari satu tahun yang ada di Jakarta. Sambil bercerita dengan gaya menasehari ibu saudara saya itu berkayta kepada saya dan saudara saya. Ia berkata, “Hati-hati jika berbicara dengan anak kecil. Sekalipun ia bertubuh kecil tapi hatinya lebih tua dari kita.” Jika saya boleh artikan nasehat tadi, bahwa jika kita berkata kepada anak kecil baik yang masih balita atau yang belum baligh haruslah berhati-hati. Karena anak kecil memiliki hati yang sangat lembut dan sensitif. Jika dipikir-pikir memang benar juga. Kadang kita yang besar memang kecap tak acuh dengan apa yang dikatakan oleh temas sebaya kita. Kadang pula kita tidak peka dengan efek timbul pada anak-anak setelah kita mengatakan sesuatu padanya. Mengapa ibu menceritakan hal itu pada saya, karena cucu kecilnya yang di Jakarta pernah disingguh dengan kata-kata yang kurang pantas oleh neneknya yang di Jakarta. Neneknya berkata, “Tuh lihat, masa anak ini makan banyak banget.” Kurang lebih itu yang saya ingat. Akhirnya Ibu mengambil kesimpulan, kata-kata itulah yang membuat cucu kecilnya itu memiliki tubuh yang sangat kecil atau mirip dengan kurang gizi. Padahal kata ibu, anak itu dalam 1 bulan menghabiskan 10 bungkus susu bubuk dengan ukuran sedang. Percaya atau tidak kesimpulan ibu agaknya layak kita renungkan.

Iklan

Liburan Isra Mi’raj kemarin saya pergi ke rumah saudara di daerah Pamulang – Kabupaten Tangerang mengendarai motor Vario yang belum lunas. He..Saya sendiri tinggal di daerah Perumnas I – Kota Tangerang. Jarak antara Perumnas – Pamulang dapat ditempuh 45 menit minus macet, jika lalu lintas macet tentu saja waktu yang dibutuhkan lebih dari itu. Selama perjalanan menuju kesana ada yang menarik perhatian saya. Sejak terakhir saya berkunjung ke Pamulang tiga bulan yang lalu, mata saya tidak pernah dengan jeli memperhatikan perubahan yang begitu cepat terjadi. Saya tidak menyangka bahwa aroma perdagangan bebas sudah mulai sampai ke kota ini. Hal ini terlihat dengan tumbuh berjamurnya tempat-tempat pengisian bahan bakar kendaraan (pom bensin) yang berasal dari luar negeri. Bayangkan saja, jika saya hitung-hitung setiap 10 menit berjalan saya akan menemukan pom bensin dengan label luar negeri. Petronas yang merupakan perusahaan minyak dari negeri Jiran, sepanjang perjalanan dari rumah hingga ketujuan ada empat buah. Dengan warna brand hijau, dilengkapi dengan outlet makanan seperti Dunkin Donuts atau Kentucy Fried Chicken dan dikombinasikan dengan sebuah waserba mini, pom bensin Petronas dengan gagah berdiri di tanah negeri ini. Bahan bakar yang ada disana ada dua jenis. Saya tidak hapal jenisnya. Yang saya hapal adalah kisaran harga bahan bakar di Petronas tidak lebih dari Rp.11.000. Berbeda dengan Petronas, warna kuning cerah dengan gambar kerang dengan list merah dipinggirnya menjadi brand yang paling terkenal dari tempat pengisian bahan bakar Shell. Perusahaan minyak dari negara adidaya Amerika ini terlihat lebih menarik bagi saya. Sekalipun tidak seperti Petronas yang dilengkapi dengan tempat jajan mini, tapi Shell memiliki daya tarik tersendiri. Pernah saya sesekali menemani teman mengisi bahan bakar disana ternyata servis prima dengan sedikit senyum simpul para penjaganya menjadi sebuah kesan yang menarik bagi saya. Berbeda dengan pelayanan yang ada di Pertmina. Apalagi kebersihan pom bensin Shell sepertinya bersaing dengan pom bensin Petronas. Hal ini amat kontras terlihat jika dibandingkan dengan kondisi pom Bensin Pertamina yang seolah tak memperhatikan kebersihan. Harga yang ditawarkan oleh pom bensin Shell tidak lebih dari Rp. 12.000. Saya menemukan empat pom bensin Shell selama saya berjalan menuju Pamulang. Pertamina boleh meneriakan cintai produk dalam negeri. Tapi Pertamina agaknya harus mulai bersiap-siap menggulung lengan baju untuk menghadapi pesaing dari luar negeri. Saya selalu teringat dengan strategi perang orang-orang dulu bahwa yang mengatakan, “Penyerang biasanya lebih siap dari yang bertahan. Mempertahankan daerah lebih sulit dibandingkan menyerang. “

Tadi malam, sambil menunggu istri pulang dari kuliah, saya menonton film Batman Begins. Kurang lebih cerita film ini adalah menceritakan bagaimana awal-awal Bruce Wayne itu menjadi seorang Pembela Kebenaran. Ternyata dari film itu dijelaskan bahwa mengapa Bruce Wayne mengambil Bat “Kelelawar” sebagai inspirasinya adalah dikarenakan Bruce Wayne sendiri takut terhadap kelelawar. Dia mencoba melawan rasa takutnya itu dengan memakai simbol kelelawar.

Menerut hemat saya itu merupakan salah satu metode yang sangat baik dalam rangka melawan rasa takut kita terhadap sesuatu. Orang yang takut dengan air mamang terapi terbaiknya adalah dengan menghadirkan air di depannya. Murid saya pun pernah bercerita bahwa dia dulu takut dengan kecoa. Kini ia tidak takut lagi karena setiap kali ia bertemu ia tidak pernah lari darinya bahkan menghadapinya dengan gagah berani.

“Tak disangka”, itu yang keluar dari seluruh mulut setiap orang yang mendengar berita ini. Yah begitulah, aku pun tak pernah menyangka jika berita itu merapat juga ketelinga. Bagaimana tidak kaget, ternyata mudir yang selama ini aku pandang baik dari segal sisi prilaku dan porestasinya ternyata seorang pencuri ulung. Boleh jadi seluruh kejadian tentang kehilangan di sekolahkku dua tahun kebelakang karena ulahnya. “Sudah banyak korban yang berjatuhan”, itu yang diungkapkan oleh murid-muridku.

Aturan di sekolah tempat aku mengajar memang menerapkan disiplin tinggi. Apalagi untuk kasus pencurian. Ini masuk kedalam kategori pelanggaran berat. Boleh jadi ujung dari kasus ini adalah pemberhentian. Tapi belum ada keputusan yang matang dari para petinggi sekolah dan dewan guru. Yang jelas ini menjadi evaluasi bagi diriku sendiri agar LEBIH DALAM LAGI melihat anak-anak. Aku tidak bisa beralasan, “mataku cuma dua mana mungkin aku bisa mengawasi semua.” Atau aku juga tidak bisa berkata, “ah namanya juga nak remaja.” Itu semua adalah dalih yang tidak bias menjadi dalil pembenaran. Toh Al Mushtofa saw. juga sendiri, tapi ia bisa merubah kebuasan seluruh masyrakat arab menjadi kelembutan yang tiada tandingannya. Mudah-mudahan aku bisa seperti idolaku.

Tenangnya air
Menghanyutkan

Lembutnya angin
Menerbangkan

Ringannya debu
Membutakan

Tak ada cara selain
Waspada

Karena hitungan maju
Tak akan mundur lagi

Ini adalah kisah tentang penjual kebab yang ada disisi jalan. Ia orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Ia mengalami gangguan pendnegaran, hingga tidak pernah mendengar apa yang muncul dari dalam radio. Matanyapun mengalami gangguan, hingga ia tidak pernah menonton televisi. Tetapi dalam hal bekerja dan menjual ia amat antusias dan bersemangat. Semua orang tahu bahwa ia adalah pekerja keras. Dari hasil kerja kerasnya ia berhasil menyekolahkan anak tunggalnya hingga mendapat gelar sarjana.
Hingga suatu hari ada diskusi menarik antara ia dan anaknya. Sang anak berkata,”Ayah, tahukah kau bahwa sebentar lagi negara kita akan mengalami resesi ekonomi. Seluruh kegiatan ekonomi akan mengalami kemunduran dan situasi ekonomi akan tak menentu. Penduduk miskin akan bertambah. Penjual kebab itu menjawab,”Tidak, aku tidak tahu akan hal itu.” Sang anak kembali melanjutkan pembicarannya,”Ayah, kau harus menyelamatkan pekerjaanmu. Kau harus mempersiapakn dana yang banyak untuk kehidupan kita kedepan. Jual kebabmu dengan harga yang murah, maka kau akan mendapatkan dana dengan cepat.” Penjual kebab itu mengangguk-angguk tanda setuju. Ia menggagap anaknya yang telah ia sekolahkan hingga sarjana lebih pintar dari dirinya. Apalagi ia dapat membaca, mendengar radio dan menonton televisi. Akhirnya pada esok harinya penjual kebab itu menjual seluruh kebab dengan harga murah dengan maksud untuk mengumpulakn dana guna mempersiapkan dana yang cepat dan banyak. Tapi apa yang terjadi, meskipun kebabnya cepat habis, tapi yang ia dapatkan hanya kerugian. Seminggu kemudian bisnis kebab yang dirintisnya sejak muda dalam kondisi diujung tanduk. Ia berkata pada anaknya,”Anakku, engkau benar, resesi ekonomi sudah menimpa kita. Aku senang kau telah memperingatiku sejak jauh-jauh hari.” Sang anak diam membisu.

Ditengah keramaian pasar terdapat seorang penjual ikan. Tepat didepan warung ia memasang tulisan JUAL IKAN SEGAR. Seorang pemebeli datang untuk membeli ikannya. Setelah membeli ikan, ia melihat tulisan yang ada didepan warungnya. Ia pun berkata,”Buat apa kau menulis JUAL disini ? semua orang juga tahu kalau kau menjual ikan”. Mendengar masukakkan itu akhirnya si pedagang menghapus kata JUAL. Sekarnag tulisannya hanya IKAN SEGAR. Tidak lama berselang datang seorang pembeli lagi. Setelah selesai bertranskasi ia pun berkomentar sambil bertanya,”Hai pedagang, bukankah kau menjual ikan segar ?.” Si pedagang menjawab, “Tentu saja.” “Jadi buat apa kau tulis SEGAR jika nyata-nyata kau menjual ikan segar?” balas si pembeli. Mendengar jawaban pembeli itu pedagang itu hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian ia menghapus tulisan SEGAR. Yang tinggal kini hanya tulisan IKAN. Ketika ia sedang menunggu pembeli, beberapa orang anak melewati warungnya dan melontarkan celetukkannya. “Penjual yang aneh. Semua orang juga tahu kalau yang jual adalah ikan. Buat apa ia sibuk-sibuk menulis IKAN.” Mendengar celetukkan itu si penjual ikan akhirnya menghapus sumua tulisan yang pernah ia tulis dan ia segera menutup warungnya karena kesal.

Abu Nawas berniat untuk mengunjungi ibunya yang tinggal desa tetangganya. Ia mengajak anaknya yang remaja untuk pergi bersama. Bersamaan dengan mereka, Abu Nawas juga mensertakan seekor keledai.
Sesasat menjelang berangkat Abu Nawas menyurh anaknya untuk menunggangi keledainya, sedangkan ia berjalan sambil memegangi tali kekang keledai. Saat ia memasuki sebuah jalan, seluruh orang yang ada dijalan itu memperhatikan mereka. Ada diantara orang-orang itu yang terdengar berbisik kepada temannya. “Dasar anak durhaka. Ia enak menunggang keledai dan membiarkan orangtuanya yang sudah tua berjalan kaki.” Setelah melewati jalan tadi, Abu Nawas berhenti sejenak dan bermusyawarah dengan anaknya tentang gunjingan yang didengarnya tadi dijalan. Hasil dari musyawrah tadi mengharsukan Abu Nawas yang kali ini menunggang keledai dan anaknya yang berjalan.
Saat ia melewati pasar ada beberapa pedagang yang berteriak kepada Abu Nawas. “Wahai orang tua yang dzalim, begitu teganya engkau membiarkan anakmu berjalan kaki sedangkan anakmu berjalan kaki.” Mendengar teriakan itu Abu Nawas segera memberhentikan keledainya dan segera menyuruh anaknya agar bersama-sama dengannya menunggang keledai itu. Belum lama keledai itu berjalan seorang ibu yang sedang berbelanja berkomentar. “Kasihan keledai itu harus membawa beban yang berat.” Mendengar komentar itu, secepat kilat Abu Nawas menuruni tunggangannya dan menyuruh anaknya untuk turun pula. Sekarang Abu Nawas dan anaknya berjalan kaki sambil menggandeng keledainya. Ketika diujung pasar para pemuda yang berada disisi jalan berteriak kepada Abu Nawas, “Hai orang tua tidak kau berpikir bahwa keledai itu diciptakan untuk kau tunggangi ?”. Mendengar teriakan itu Abu Nawas dan anaknya langsung berhenti dan bermusyawarah lagi. Akhirnya Abu Nawas dan anaknya menggotong keledai itu bersama-sama. Kontan saja para pemuda yang berada disi jalan menertawakannya. Tapi kali ini Abu Nawas tetap tak bergeming hingga sampai kerumah ibunya. Saat sampai dirumah ibunya, ibunya kaget melihat kelakuan anakn dan cucunya. Ibunya berkata, “kau tinggal dimana pikiran dikepalamu wahai anakku?”. Abu Nawas dan anaknya hanya tertawa ringan.

Seorang kakek sedang berjalan-jalan berkeliling kota menggunakan motor bersama cucunya. Tiba-tiba cucunya terperangah melihat sebuah gedung yang tinggi disebelah kanannya. Sang kakek yang melihat dari spion motornya kemudian menepikan motornya kepinggir jalan. Ia ingin cucunya puas melihat gedung itu. Disaat menemani cucunya sang kakek memanggil dengan maksud menjelaskan sesuatu kepada cucunya. Sang kakek berkata,”Tahukan cucuku sayang, kemunggkinan berat gedung ini sekitar 20.000 ton. Tapi jika kau perhatikan dan coba kau hitung, ternyata sekitar 60% dari berat gedung ini berada dibawah tabah dan menjadi pondasi bangunan ini.” Sang cucu menganggukkan kepalanya tanda memahami pesan dari kakeknya.

Seorang mandor sedang berjalan memeriksa pekerjaan anak buahnya. Kali ini ia berkeliling kebagian tukang batu. Ia berniat memeriksa dan bertanya pada para tukang batunya. Ia bertanya kepada tukang batu pertama,”Apa yang sedang kau lakukan?”. Tukang batu itu menjawab dengan ketus,”Tidakkah kau melihat aku sedang memcahkan batu ditengah terik matahari.” Mandor itu hanya tersenyum mendengar jawaban tukang batu itu. Kemudia ia berlalu dan bertanya kepada tukang batu kedua dan mengajukkan pertanyaan yang sama. Tukang batu kedua menjawab,”Aku sedang mencari nafkah untuk keluargaku.” Mandor itu kembali tersenyum mendengar jawaban tersebut. Lau ia berjalan kepada tukang batu ketiga dan bertanya dengan pertanyaan yang sama kepadanya. Tukang batu ketiga menjawab, “Aku sedang membangun bangunan yang indah dan kokoh. Bangunan ini akan menjadi saksiku kelak dihari akhir. Dengan ini aku juga berkisah kepada anak cucuku kelak.”

Seorang gadis pemerah susu berjalan menuju pasar untuk menjual susu hasil perahannya. Ia membawa susu pada sebuah kendi yang cukup besar. Sambil berjalan menuju pasar ia membayangkan barang-barang yang akan dibelinya setelah berhasil menjuak susu itu.
Gadis itu berkata dalam hari,”Sepulang dari pasar nanti saya akan membeli ayam yang banyak untuk aku ternakkan di halaman rumahku. Setelah banyak ayam-ayam itu akan aku jual ke pasar”.
Sambil berjalan ternyata ia masih mebayangkan apa yang akan dilakukannya nanti,”Hasil dari penjuallan ayam itu aku akan membeli dua ekor kambing. Setelah beranak pinak aku akan jual kambing itu dengan harga yang bagus”.
Terus saja gadis itu tetap bermimpi,” Setelah menjual kambing, aku akan membeli seekor sapi uyang besar dan bagus. Tentu saja setelah aku merawat dengan baik, sapi itu akan menghasilkan susu lagi. Akhinya aku akan menghasilkan susu yang lebih banyak dari yang aku hasilkan hari ini”.
Dengan spontan gadis itu melompat kegirangan karena mimpinya itu, tapi apa yang terjadi, ketika ia melompat kendi susunya terlepas dari tangannya dan pecah. Susu yang ada didalamnya tumpah berceceran dijalan raya. Gadis itu kini hanya bisa terdiam dan menangis. Tidak ada mimpi lagi didalam pikirannya.