Skip navigation

Hampir disetiap kali saya menyelesaikan masalah yang menyelimuti peserta didik, sekali waktu berusaha menghadirkan orangtua peserta didik. Tujuannya agar orangtua dapat mengetahui secara langsung apa yang diutarakan oelh anaknya. Tulisan di dibawah ini adalah sepenggal diskusi saya dengan peserta didik yang dihadiri pula oleh orangtuanya.

Sebagai gambaran awal, peserta didik saya ini terkena kasus pelanggaran tata tertib ; ancaman kekerasan kepada teman, memeras teman, mencuri, dan masalah kerapihan. Yang menjadi sorotan saya adalah tingkah ancaman kekerasan dan memeras teman. Saya menanyakan kepada peserta didik saya, apakah ia mengalami mengalami trauma ketika kecil sehingga ia melakukan hal tersebut ?. Langsung peserta didik saya menjawab, bahwa ketika kecil ia selalu merasa disiksa oleh ibunya Ibunya yang ada disampingnya mencoba membela diri bahwa ia melakukan hal tersebut karena sayang dan karena ia susah sekali untuk disuruh belajar. Dan ibunya juga mengaku bahwa ia tidak menyiksa tapi hanya memukul. Tapi tetap saja peserta didik saya merasa ia ketika kecil sudah disiksa, padahal seharusnya ia tidak perlu disiksa. Sebagai dari akibat perbuatan ibunya dimasa lalu kerapkali ibunya merasa ketakutan dengan sikap anaknya yang terkadang seperti mengancam jiwanya. Karena disetiap kesempatan yang memancing emosi, anaknya selalu bertindak brutal dihadapan ibunya sehingga ibu selalu merasa takut dengan anaknya sendiri.

Penggalan diskusi diatas merupakan penggalan diskusi yang sarat makna bagi saya secara pribadi. Ada beberapa tema yang mungkin menjadi benang merah dari penggalan diskusi di atas. Pertama, meluruskan prilaku anak ketika anak salah. Kedua, perlukah memukul ?. Ketiga, efek psikologis terhadap punishment yang diberikan oleh anak.

Meluruskan perilaku anak

Seorang bijak pernah berkata, “Kesalahan kecil dipermulaan akan membawa bahaya besar dikemudia”. Menurut hemat saya perkataan tersebut adanya benarnya. Apalagi jika kita kaitkan dengan permasalahan mendidik anak, perkataan itu amatlah berkaitan.

Dalam meluruskan perilaku anak, yang pertama kali kita harus pahami adalah bahwa berbuat salah merupakan sifat manusia. Apalagi bagi seorang yang belum mencapai aqil baligh, maka hal tersebut pasti akan sering kita temui dalam keseharian mereka. Jadi hal tersebut amatlah wajar, tetapi menjadi tidak wajar jika kita kerapkali mendiamkan kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak kita, apalagi tanpa menegurnya sedikitpun. Cara terbaik untuk meluruskan kesalahan anak adalah dengan meluruskan cara berpikir kesalahan anak kita jika melakukan kesalahan, dan dengan meluruskan perilakunya.

Meluruskan cara berpikir

Ketika kita menemukan anak kita melakukan kesalahan maka berikanlah alasan-alasan yang jitu tanpa sedikitpun dibubuhi kedustaan. Misalkan kita menemukan anak kita menyakiti temannya, maka berikan alasan-alasan yang mendidik kepada anak kita efek-efek dari kesalahan yang akan dia terima nantinya. Atau ajukan pertanyaan balik kepada anak kita, maukah ia disakiti seperti ia menyakiti temannya ?. Hal diatas cukup melatih anak kita daya pikir anak kita, disamping mereka mengetahui konsekwensi yang ditimbulkan jika ia berbuat salah.

Meluruskan berperilaku

Keteladanan merupakan cara terbaik dalam meluruskan perilaku anak. Seperti halnya paku yang sudah tertanam di kayu hal tersebut amat sulit untuk dilupakan oleh anak kita. Misalkan kita menemukan akan kita salah dalam mengambil wudhu, maka cara terbaik adalah dengan memberikan contoh langsung kepada anak kita.

Mudah-mudahan sedikit tulisan ini dapat sedikit membantu kita dalam melurukan perilaku anak kita dan dapat menjadi tabungan pahala bagi kita. Yang jelas hal ini menjadi kewajiban kita selaku orangtua.

Maafkan pada kesalahan pertama
Karena ia tidak tahu

Nasehati pada kesalahan kedua
Karena ia mungkin keliru

Beri contoh pada kesalahan ketiga
Karena mungkin ia tidak khilaf

Sungguh, membiarkan kebiasaan buruk
Seperti mengundang harimau masuk kedalam rumah

Membiarkan kebiasan buruk
Akan menjadikannya watak yang kedua

Al Musthafa saw. berkata, “Sungguh meluruskan perilaku anak itu adalah lebih baik dari bershadaqah satu gantang.” (HR. Tirmadzi)

One Comment

  1. Kadang untuk Beristiqomah itu sulit sekali, Kadang Ia Ringan Bagaikan Kapas bisa terbang dengan hanya tertiup Semilir Angin, Kadang Berat Bagaikan Bandul Besi yang diikatkan pada Mata Kaki Para Pesakitan di Bui Jaman Dulu kadang pula Istiqomah itu bisa hilang dalam sekejap ketika Rasa Marah dan Emosi sedang memeluk kita bagaikan awan gelap yang sebelum hujan deras Datang. Begitu juga dalam mendidik Anak, Bangunan keelokan Jiwa yang dibentuk dari pondasi kesabaran yang di tanamkan satu demi satu kadang Jadi porak poranda seketika ketika kita tidak bisa menjaga lisan dan laku di depan Mereka. Semoga Kita Bisa Selalu Beristiqomah dalam Mendidik, Meluruskan dan Menjaganya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: