Lewati navigasi

Monthly Archives: April 2008

Seringkali para orangtua kehabisan cara dalam meluruskan prilaku keliru yang dipraktekkan anak-anaknya. Stress pun menjadi masalah baru bagi para orangtua yang kerepotan dengan tingkah laku anaknya yang dianggap sudah kelewatan dan diluar batas kewajaran. Apalagi setelah menggunakan beberapa cara yang pernah saya paparkan pada tulisan sebelumnya tetap belum menunjukkan ada hasil yang baik. Yang terpenting janganlah putus asa dan tetaplah berpikir positif, karena segala sesuatu tentu saja ada jalan dan ada obatnya.

Apabila memang cara memperbaiki dari segi pikiran dan contoh teladan sudah maksimal diberikan maka cara lainpun dapat digunakan. Selama cara tersebut tetap dipikirkan dengan matang agar tidak menimbulkan masalah yang baru yang semakin merepotkan kita. Namun, perlu diingat juga bahwa semua yang kita lakukan untuk memperbaiki perlikau anak kita sebaiknya dilakukan dengan tahapan-tahapan dan langkah-langkah yang teratur dan penuh pertimbangan. Mungkin langkah-langkah dibawah ini dapat menjadi catatan kecil untuk kita semua.

1. Tujukkan wajah yang tidak setuju

Menunjukkan wajah yang tidak kurang nyaman dilihat ketika anak melakukan perilaku yang keliru dihadapan kita adalah cara yang pertama kita lakukan. Tapi yang perlu diingat ketika menunjukkan wajah masam kita, tak boleh diiringi dengan rasa marah atau benci. Bahka tidak boleh keluar sedikitpun dari mulut kita kata-kata yang tidak pantas diidengar oleh anak kita.

2. Tunjukkan tangan kita

Dulu ketika kecil, ketika saya sudah sangat sulit diatur oleh ayah saya, ayah selalau menunjukkan wajah amsam dengan disertai posisi jari-jemari yang siap menyentil tenga saya. Tapi hal itu hanya sebagai show of force dari ayah saya yang membuat hati saya sudah berdegup kencang. Akhirnya saya urung melakukan hal yang keliru lagi.

Ibnu Abbs mengatakkan, Rasulullah saw. bersabda, “gantungkan cemeti di tempat yang mudah dilihat oleh keluarga, karena itu dapat meluruskan perilaku mereka.” (HR. Bukhari)

3. Disentil atau dijewer

Ketika anak kita tetap sulit dikendalikan, maka sentilan dan jeweran pada telinga (namun tetap memperhatikan tingkat sakitnya) layak untuk dilakukan. Tapi dengan syarat, ketika menyentil dan menjewer tnpa disertai dengan cacian dan makian. Setelah itu lakukan diskusi dan penyadana kemabali, agar anak mengetahui bahwa yang kita lakukukan ini karena ada alasan tertentu.

Iklan

Hampir disetiap kali saya menyelesaikan masalah yang menyelimuti peserta didik, sekali waktu berusaha menghadirkan orangtua peserta didik. Tujuannya agar orangtua dapat mengetahui secara langsung apa yang diutarakan oelh anaknya. Tulisan di dibawah ini adalah sepenggal diskusi saya dengan peserta didik yang dihadiri pula oleh orangtuanya.

Sebagai gambaran awal, peserta didik saya ini terkena kasus pelanggaran tata tertib ; ancaman kekerasan kepada teman, memeras teman, mencuri, dan masalah kerapihan. Yang menjadi sorotan saya adalah tingkah ancaman kekerasan dan memeras teman. Saya menanyakan kepada peserta didik saya, apakah ia mengalami mengalami trauma ketika kecil sehingga ia melakukan hal tersebut ?. Langsung peserta didik saya menjawab, bahwa ketika kecil ia selalu merasa disiksa oleh ibunya Ibunya yang ada disampingnya mencoba membela diri bahwa ia melakukan hal tersebut karena sayang dan karena ia susah sekali untuk disuruh belajar. Dan ibunya juga mengaku bahwa ia tidak menyiksa tapi hanya memukul. Tapi tetap saja peserta didik saya merasa ia ketika kecil sudah disiksa, padahal seharusnya ia tidak perlu disiksa. Sebagai dari akibat perbuatan ibunya dimasa lalu kerapkali ibunya merasa ketakutan dengan sikap anaknya yang terkadang seperti mengancam jiwanya. Karena disetiap kesempatan yang memancing emosi, anaknya selalu bertindak brutal dihadapan ibunya sehingga ibu selalu merasa takut dengan anaknya sendiri.

Penggalan diskusi diatas merupakan penggalan diskusi yang sarat makna bagi saya secara pribadi. Ada beberapa tema yang mungkin menjadi benang merah dari penggalan diskusi di atas. Pertama, meluruskan prilaku anak ketika anak salah. Kedua, perlukah memukul ?. Ketiga, efek psikologis terhadap punishment yang diberikan oleh anak.

Meluruskan perilaku anak

Seorang bijak pernah berkata, “Kesalahan kecil dipermulaan akan membawa bahaya besar dikemudia”. Menurut hemat saya perkataan tersebut adanya benarnya. Apalagi jika kita kaitkan dengan permasalahan mendidik anak, perkataan itu amatlah berkaitan.

Dalam meluruskan perilaku anak, yang pertama kali kita harus pahami adalah bahwa berbuat salah merupakan sifat manusia. Apalagi bagi seorang yang belum mencapai aqil baligh, maka hal tersebut pasti akan sering kita temui dalam keseharian mereka. Jadi hal tersebut amatlah wajar, tetapi menjadi tidak wajar jika kita kerapkali mendiamkan kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak kita, apalagi tanpa menegurnya sedikitpun. Cara terbaik untuk meluruskan kesalahan anak adalah dengan meluruskan cara berpikir kesalahan anak kita jika melakukan kesalahan, dan dengan meluruskan perilakunya.

Meluruskan cara berpikir

Ketika kita menemukan anak kita melakukan kesalahan maka berikanlah alasan-alasan yang jitu tanpa sedikitpun dibubuhi kedustaan. Misalkan kita menemukan anak kita menyakiti temannya, maka berikan alasan-alasan yang mendidik kepada anak kita efek-efek dari kesalahan yang akan dia terima nantinya. Atau ajukan pertanyaan balik kepada anak kita, maukah ia disakiti seperti ia menyakiti temannya ?. Hal diatas cukup melatih anak kita daya pikir anak kita, disamping mereka mengetahui konsekwensi yang ditimbulkan jika ia berbuat salah.

Meluruskan berperilaku

Keteladanan merupakan cara terbaik dalam meluruskan perilaku anak. Seperti halnya paku yang sudah tertanam di kayu hal tersebut amat sulit untuk dilupakan oleh anak kita. Misalkan kita menemukan akan kita salah dalam mengambil wudhu, maka cara terbaik adalah dengan memberikan contoh langsung kepada anak kita.

Mudah-mudahan sedikit tulisan ini dapat sedikit membantu kita dalam melurukan perilaku anak kita dan dapat menjadi tabungan pahala bagi kita. Yang jelas hal ini menjadi kewajiban kita selaku orangtua.

Maafkan pada kesalahan pertama
Karena ia tidak tahu

Nasehati pada kesalahan kedua
Karena ia mungkin keliru

Beri contoh pada kesalahan ketiga
Karena mungkin ia tidak khilaf

Sungguh, membiarkan kebiasaan buruk
Seperti mengundang harimau masuk kedalam rumah

Membiarkan kebiasan buruk
Akan menjadikannya watak yang kedua

Al Musthafa saw. berkata, “Sungguh meluruskan perilaku anak itu adalah lebih baik dari bershadaqah satu gantang.” (HR. Tirmadzi)

Saya melakukan hal ini karena saya merasa tidak disayang oleh orang tua. Orang tua saya lebih menyayangi adik saya daripada saya. Seringkali saya merasa iri jika ibu dan ayah saya bercanda dengan adik saya di ruang keluarga, tetapi saya hnya sendiri di kamar mendengar canda tawa mereka. Yang jelas setelah kelahiran adik saya, saya merasa terancam bila ayah dan ibu tidak lagi merasa saying kepada saya. Dan hal itu memang seolah-oleh terjadi. Makanya, saya berprilaku buruk (memeras teman, mencuri, tidur disaat proses belajar, melawan guru) dikarenakan saya merasa dendam dengan orang tua saya.

Kurang lebih beberapa kalimat itulah yang saya ingat ketika saya menangani permasalahan perikalu peserta didik saya. Kata-kata itu kerap teringat selalu didalam langit-langit pikiran saya dan menggelitik tanpa henti. Terutama kalimat tentang “Rasa keadilan orang tua” itu yang menjadi kalimat yang paling saya garis bawahi dan saya beri cetakkan miring. Perlu diingat, bahwa rangkaian kata di atas merupakan rangkaian kata seorang peserta didik tingkat II SLTA yang mencoba menceritakan gejolak hatinya sejak ia berusia 8 tahun (tingkat II SD) yang ia pendam dalam diam, namun terwujud dengan sikap negatif.

Terkadang memang tidak terasa bahkan tidak kita sadari jika selama ini -mungkin- kita selama ini merasa telah optimal berbuat adil kepada anak-anak kita, tapi ternyata menurut anak-anak, kita tidak berbuat adil kepada mereka. Dalam hal ini agaknya setiap kita selaku orang tua haruslah melakukan intropeksi diri dan membuka diri untuk menerima masukkan dari anak-anak kita sendiri. Jika anak-anak kita cenderung pasif untuk melontarkan kritiknya, maka selipkanlah pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Memang butuh kelapangan jiwa untuk menerima setiap kata kritikan dari anak kita sendiri. Tapi yakinlah, jika kita ingin melakukan hal tersebut, banyak manfaat yang akan kita dapatkan. Dibandingkan kita akan menerima akumulasinya dari sikap kita dikemudian hari.

Jika ada satu perbuatan yang paling sulit dilakukan
Niscaya adil adalah yang paling pertama

Jika ada satu pemberian yang paling sulit diterima
Niscaya kritik adalah yang paling pertama

Jika ada satu hal yang paling membuat kita dicintai
Niscaya adil adalah yang paling pertama

Jika ada satu hal yang paling membuat kita mencapai kemuliaan
Niscaya kritik adalah yang paling pertama

Al Musthafa saw. bersabda, “Berlaku adillah terhadap anak-anakmu dalam suatu pemberian sebagaimana kamu suka bersikpa adil di antara kamu dalam kebaikan dan kasih saying.” (HR. Thabrani).

Pendidikan merupakan sebuah tema abadi yang tak akan pernah lekang oleh zaman. Bahkan sampai dunia ini berakhir kata “Pendidikan” adalah kata yang menarik untuk dikaji oleh kita semua.

Mengurai Akar Mencari Asal


Pendidikan akrab dikenal dengan nama Tarbiyah. Tarbiyah sendiri menurut Raghib Ashfahani berasal dari kata “Ar Rabb” yang berarti menumbuhkan sesuatu dari satu keadaan ke satu keadaan yang lain hingga mencapai batas kesempurnaan. Senada dengan pendapat di atas, Imam Baidhawi melengkapi bahwa kata Ar Rabb berati juga menyempurnakan sesuatu secara bertahap.

Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan, Pendidikan berarti sebuah usaha bertahap untuk mencapai sebuah kesempurnaan. Dengan demikian sebuah benang merah dapat kita tarik bahwa pendidikan bukanlah sebuah kegiatan Sim Salabim atau Abra Kadabra, tetapi merupakan sebuah proses bertahap dan berjenjang yang tentunya akan memakan waktu yang tak singkat, tenaga yang tak sedikit dan perasaan yang terbatas. Namun sebaliknya, proses itu memakan waktu yang sangat lama, tenaga yang begitu melimpah bahkan tenaga ekstra sangat diperlukan dan perasaan yang seluas bumi dan langit.

Oleh karena itu, kita yang hari ini terjun kedunia pendidikan harus memahami bahwa jalan yang kita akan lalui adalah jalan yang teramat panjang dan berliku. Bahkan tidak hanya berliku, melainkan jalan setapak yang becek yang akan selalu dihiasi dengan genangan air, lumpur, atau bahkan onak dan duri. Bukan sorak sorai yang kita dapat dari dunia yang kita geluti saat ini, namun sebuah syair kesabaran dengan jutaan bait tanpa jeda, tanpa koma bahkan tanpa titik. Tapi janganlah takut, bahwa sejarah dan zaman telah mencatat bahwa para pelaku utama didunia pendidikan adalah mereka-mereka yang aroma selalu tercium wangi bahkan sampai kita mati kelak.

Maju terus para pembimbing pena

Kapal sudah berlayar

Muatan sudah diangkut

Pantang jangkar diturunkan

hingga kapal ini karam sampai tak timbul kembali

Tapi apabila saat itu telah tiba, ingatlah

Aroma keabadian akan selalu wangi tercium

Al Musthafa saw. berkata, Apabila manusia mati, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara ; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya. (HR. Hakim)